Mengenal Sejarah Mbah Tumpak di Desa Sambilawang

Mengenal Sejarah Mbah Tumpak di Desa Sambilawang

Sejarah Mbah Mustofa

Salah satu kegiatan masyarakat yang masih asli dan berada di Desa Sambilawang yakni Khaul Mbah Tumpak. Mbah Mushtofa atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Tumpak merupakan sesepuh, seorang pemuka agama (Kyai) yang disegani oleh masyarakat di Desa Sambilawang. Mbah Tumpak merupakan sesepuh yang masih sempat merasakan segala problema pada masa penjajahan Belanda yang pada zamannya itu para Kyai banyak diburu sehingga nama-nama Kyai sengaja disamarkan. Sabtu, 02 Oktober 2021 peserta KKN-IK IAIN Kudus berhasil melakukan wawancara langsung terhadap salah satu tokoh di Desa Sambilawang yaitu Bapak Musta’in Busyro. Bapak Musta’in Busyro menyatakan bahwa mayoritas (90%) dari masyarakat Desa Sambilawang merupakan keturunan dari Mbah Tumpak, termasuk beliau sendiri.

Beliau (Bapak Musta’in Busyro) memberikan gambaran mengenai silsilah dari Mbah Tumpak, namun dalam penggambaran tersebut masih terdapat keturunan-keturunan dari Mbah Tumpak yang belum dapat diketahui. Dalam penggambarannya tersebut, secara garis besar Mbah Tumpak memiliki 3 orang anak (Ronje, Rontek, dan Ranti). Sementara beliau sendiri (Bapak Musta’in Busyro) merupakan keturunan ketujuh dari Mbah Tumpak. Salah satu peninggalan dari Mbah Tumpak yaitu berupa cungkup yang baru saja diperbaharui pada tahun 2005. Kala itu Bapak Musta’in Busyro yang menjabat sebagai kepala desa pada periode (1999-2015) mengambil evaluasi dari berbagai desa, dimana desa-desa yang diamati tersebut memiliki sebuah kegiatan yang dilaksanakan setiap tahunnya. Kemudian beliau mulai berpikir untuk membuat sebuah kegiatan yang dikenal dengan “megengan”. Megengan merupakan sebuah tradisi menghilangkan pembuatan apem. Megengan hampir sama seperti halnya sedekah bumi, namun lebih menjunjung tinggi keagamaan atau religi.

Megengan sendiri diartikan sebagai bentuk persiapan yang dilakukan untuk menyambut bulan puasa (Ramadhan). Salah satu tujuan dari dibentuknya kegiatan tersebut yaitu untuk mengeratkan tali silaturahim masyarakat Desa Sambilawang. Kegiatan baru tersebut diterima masyarakat dengan baik dan dimulai pada tahun 2004 (Sasi Ruwah), seiring berjalannya waktu sedikit demi sedikit sejarah mengenai sosok Mbah Tumpak mulai bermunculan. Kemudian pada tahun 2008 diperingatilah Khaul Mbah Tumpak pada bulan Jumadil Akhir. Namun semenjak Covid-19 melanda hampir seluruh Indonesia termasuk desa-desa terpencil, kegiatan ini terhenti kurang lebih selama dua tahun sekarang ini. Dalam pelaksanaan megengan biasanya dibuatkan panitia khusus tiap tahunnya untuk mengatur jalannya kegiatan ini. Harapannya di tahun-tahun kedepan nanti dapat dibentuk panitia tetap melalui Re-Organization yang dapat mendukung kelancaran kegiatan megengan di Desa Sambilawang.

Sejarah Mbah Mustofa (Mbah Tumpak)

Sumber: Bpk. Musta’in Busyro

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan