Produksi Garam sebagai Ajang Mata Pencaharian Penduduk di Desa Sambilawang

Produksi Garam sebagai Ajang Mata Pencaharian Penduduk di Desa Sambilawang

GaramGaram

Garam

Daerah pesisir pantai tidak asing lagi untuk dikaitkan dengan hasil laut. Salah satunya yaitu garam. Namun produksi garam ini masuk ke dalam pengolahan lahan yang tetap berkaitan dengan air laut. Penduduk pesisir Pantai Sambilawang telah terikat penuh menjadikan garam sebagai salah satu mata pencaharian mereka. Kala itu matahari sedang terik-teriknya diselingi pemandangan ombak yang gemuruh dan sentuhan angin diatas kepala, peserta KKN-IK IAIN Kudus pada tanggal 25 september 2021 berhasil menemui salah satu penduduk yang mengelola garam dekat tepi pantai dan sempat terlibat percakapan yang berkualitas.

Dari perbincangan-perbincangan tersebut diketahui yang mengelola lahan garam dekat tepi pantai adalah Bapak Samasi dan Bapak Tono. Ketika ditanya tentang asal muasal ide membuat jaring-jemaring air laut berbentuk paguyuban hingga menghasilkan garam yang putih dan berkualitas, Pak Samasi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan inisiatif yang dikembangkan sedangkan dana yang dipergunakan adalah dana dari pemerintah. Paguyuban tersebut berjumlah kurang lebih 8 yang memiliki fungsi berbeda-beda.

Salah satu manfaat dari paguyuban buatan tersebut adalah garam yang tidak mudah tergerus air hujan sehingga meskipun hujan, garam yang dihasilkan tetap dapat digaruk atau dikumpulkan.Paguyuban-paguyuban tersebut terletak berhimpitan dengan warung kopi milik Pak Ahmad dan dekat dengan tumbuhan-tumbuhan mangrove. Rata-rata hampir seluruh penduduk di Desa Sambilawang yang memanfaatkan air laut pada lahan-lahan sewa mereka untuk memproduksi garam. Sayangnya beberapa tahun terakhir ini harga garam mengalami penurunan yang membuat semangat para petani garam pun mulai menurun.

Penduduk setempat menanti-nantikan musim hujan yang tak kunjung tiba dimana biasanya harga garam lebih meningkat dari biasanya. Hikmah dari musim kemarau yang panjang adalah para penduduk setempat tetap bisa mengumpulkan garam, namun untuk penempatan gundukan-gundukan garam yang penuh seperti depo atau gubuk tentu menimbulkan pemikiran yang berbeda lagi.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan